Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2019

Maulid Nabi

M emperingati hari kelahiran nabi Muhammad, bukan haul wafatnya  Al Huda banjar. -  Sering kita mendapatkan pertanyaan dari masyarakat akar rumput ihwal tidak diperingatinya hari wafatnya Rasulullah. Mereka bertanya, kenapa tidak ada peringatan hari wafatnya Nabi, sebagaimana haul para ulama dan wali Allah. Mengapa hanya hari kelahiran beliau yang diperingati?. Sehubungan dengan ini, Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki dalam kitabnya Haulul-Ihtifal bi Dzikra Maulidin-Nabi asy-Syarif, beliau mencatut pernyataan Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Al-Hawi-nya: ﻧﺼﻪ : ﺇﻥ ﻭﻻﺩﺗﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻋﻈﻢ ﺍﻟﻨﻌﻢ ﻭﻭﻓﺎﺗﻪ ﺃﻋﻈﻢﺍﻟﻤﺼﺎﺋﺐ ﻟﻨﺎ. ﻭﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﺣﺜﺖﻋﻠﻰ ﺇﻇﻬﺎﺭ ﺷﻜﺮ ﺍﻟﻨﻌﻢ ﻭﺍﻟﺼﺒﺮﻭﺍﻟﺴﻜﻮﻥ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻤﺼﺎﺋﺐ   Sesungguhnya kelahiran Nabi lebih agung daripada semua nikmat dan wafatnya Beliau merupakan musibah yang paling besar. Syariat Islam selalu menganjurkan untuk menampakkan rasa syukur atas nikmat-nikmat dan bersabar serta diam (tidak mengeluh) ketika tertimpa musibah-musibah. ﻭﻗﺪ ﺃﻣﺮ ﺍﻟﺸﺮﻉ ...

Mengenal Tasawuf Irfani dari Seorang Tokoh Dzu An Nun Al Mishri

Mengenal Tasawuf Irfani dari Seorang Tokoh Dzu An Nun Al Mishri Al   Huda Banjar. -Tasawuf, istilah yang diberikan untuk Mistisme dalam Islam atau  the mystic of Islam.  Sehingga bisa dikatakan bahwa dunia mistik yang didalami oleh agama Islam berasal dan berangkat dari dunia Tasawuf, sedangkan para orientalis menyebutnya sebagai  sufism . Namun dalam mengenal tasawuf sendiri, tentu kita tidak hanya terpatok pada kata Tasawuf saja, melainkan kita pun serasa wajib tahu akan berbagai varian dari tasawuf sendiri, dan kali ini kita akan membahas terkait  Tasawuf Irfani  dan salah satu tokoh pengembannya, berikut ulasannya; Tasawuf Irfani , Tasawuf secara makna kata berarti suci, yakni berasal dari kata  Shafa ’ yang berbentu fi’il mabni majhul sehingga menjadi isim mulhaq  dengan huruf “ya’” nisbah yang berarti sebagai nama bagi orang orang yang bersih atau suci. Sedangkan Irfan dalam bahasa Arab adalah bentuk Mashdar dari ‘arafa yang ar...

Tradisi Mencium Tangan Kiai di Pesantren

Tradisi Mencium Tangan Kiai di Pesantren, Kebiasaan Orang Shaleh Sejak Zaman Nabi Kang Izad. Al Huda Banjar. – Suatu ketika, saya ngobrol panjang dengan seorang teman, obrolan kami berkisar seputar pesantren dan beberapa tradisi yang ada di dalamnya. Ketika masuk ke pembahasan tradisi mencium tangan kiai, teman saya berpendapat bahwa tradisi cium tangan adalah sesuatu yang tidak layak, tidak manusiawi, dan dianggap representasi dari satu jenis perbudakan. Maklum, teman saya ini hampir tidak pernah mengenyam pendidikan ala  pesantren . Sejak kecil, dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan sekolah umum yang kurang ada sentuhan kepesantrenan. Tapi apa boleh buat, pandangan yang kurang pas soal tradisi mencium tangan kiai ini harus saya luruskan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Biasanya, seseorang yang menolak tradisi-tradisi lama semacam cium tangan, sangat banyak terpengaruh oleh gagasan orang-orang Barat yang bercirikan bebas dan anti merendah di hadapan orang la...

MEMBACA QUR`AN DI KUBURAN

MEMBACA QUR`AN DI KUBURAN Al Huda banjar. Sering kali kita mendengar penceramah membahas soal hukum membaca Al-quran di makam " kubur ", maka pembahasan ini akan mengupas dasar penetapan membaca al-Qur'an atau khusunya surat Yasin dan tahlil di kuburan sebagaimana yang kerap dilakukan oleh warga Nahdhiyyin saat berziarah atau nyekar di makam orang tua atau saudara. Dalam satu haditsnya, Rasulallah bersabda: مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ كُلَّ جُمْعَةٍ فَقَرَأَ عِنْدَهُمَا أَوْ عِنْدَهُ يَس غُفِرَ لَهُ بِعَدَدِ كُلِّ آيَةٍ أَوْ حَرْفٍ “Barangsiapa berziarah ke kuburan kedua orang tuanya setiap Jum’at lalu membacakan di sisinya Surat Yasin, niscaya akan diampuni sebanyak jumlah ayat dan huruf yang dibaca.” Hadits riwayat Ibnu ‘Adi dari Abu Bakar ini masih diperselisihkan para pakar ahli hadits. Al-Hafizh Ibnul Jauzi menilainya maudhu’, sementara ulama lain mengatakan hanya dha‘if[1] seperti al-Hafizh as-Suyuthi dan lain-lain. Berangkat dari pendapat yang terakh...

Semut minta hujan

Ketika Seekor Semut Lakukan Istisqa di Zaman Nabi Sulaiman As Senin 07 Oktober 2019  Al Huda banjar. Semut bukan hewan biasa. Semut memiliki keistimewaan dalam Islam. Semut merupakan salah satu hewan yang disebut dalam Al-Qur’an bahkan diabadikan menjadi salah satu nama surat di dalamnya, An-Naml (Surat Semut).   Hubungan semut dan manusia bukan terjadi belakangan ketika anak-anak diserang kawanan semut ketika naik pohon jambu, bacang, mangga, kecapi, atau pohon rambutan. Semut juga kerap dijumpai di sebuah gelas berisi kopi, susu, atau sekadar air putih, bahkan di kaleng susu.   Hubungan manusia dan semut sudah terjalin sejak lama. Nabi Muhammad Saw pernah menceritakan seorang nabi di zaman dahulu yang membakar sarang semut karena salah seekor dari mereka mengigitnya. Tetapi atas tindakan melewati batas tersebut, Allah menegur nabi-Nya sebagaimana hadits riwayat Sunan Abu Dawud berikut ini:   عن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال نزل نبي م...

6 Peristiwa di Bulan Shafar

6 Peristiwa Penting Dalam Bulan Safar Kang Mufid Al Huda banjar.  – Sebenarnya setiap bulan, selalu ada peristiwa penting dalam perjalanan umat Islam. Berhubungan sekarang sudah memasuki bulan Safar. Alangkah baiknya kita mengetahui peristiwa penting dalam bulan Safar. Seperti yang telah disampaikan dalam pengantar, setiap bulan Qamariyyah memiliki peristiwa penting yang terjadi di dalamnya. Entah terjadi pada masa Rasululah, empat khalifah pasca-beliau, maupun setelahnya masa khulafaur rasyidin tersebut. Ketetapan jumlah bulan pun sebenarnya telah ditetapkan oleh Allah SWT. dalam Al-Qur`an. Tepatnya pada Surat At-Taubah ayat 36:  إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ   Artinya: “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah ketik...