Langsung ke konten utama

Postingan

Berwudhu pakai air yang dipanaskan

*Berwudhu Dengan Air yang Dipanaskan* Al Huda Banjar.  Di dunia situasi tiap daerah berbeda beda, ada yang super panas, panas, sedang, dingin hingga sangat dingin.begitu juga kondisi fisik setiap orang, ada yang sehat atau sakit, dan kesemuanya berkewajiban bersuci untuk melaksanakan ibadah wajib. Singkatnya kemarin malam ada pertanyaan menggelitik, bolehkah berwudhu atau bersuci pakai air hangat atau air yang dihangatkan? Al faqir berusaha mencari sumber rujukan keterangan hingga ketemu seperti yang tertulis dibawah, kurang lebihnya mohon maaf  Imam Syafi’i yang tertera dalam kitab Al-Hawi yang ditulis oleh Al-Mawardi. Menurutnya, setiap air dari laut baik tawar atau asin, dari sumur atau langit (air hujan), atau air yang dingin atau salju, yang dipanaskan atau tidak adalah sama dan boleh untuk bersuci. قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ : وَكُلُّ مَاءٍ مِنْ بَحْرٍ عَذْبٍ أَوْ مَالِحٍ أَوْ بِئْرٍ أَوْ سَمَاءٍ أَوْ بَرَدٍ أَوْ ثَلْجٍ مُسَخَّنٍ وَغَيْرِ مُسَخَّنٍ فَسَوَاءٌ ، ...
Postingan terbaru
Bergembira Menyambut Ramadhan, Salah Satu Wujud Keimanan PP Al Huda Banjar  Salah satu tanda keimanan adalah seorang muslim bergembira dengan akan datangnya bulan Ramadhan. Ibarat akan menyambut tamu agung yang ia nanti-nantikan, maka ia persiapkan segalanya dan tentu hati menjadi sangat senang tamu Ramadhan akan datang. Tentu lebih senang lagi jika ia menjumpai Ramadhan. Hendaknya seorang muslim khawatir akan dirinya jika tidak ada perasaan gembira akan datangnya Ramadhan. Ia merasa biasa-biasa saja dan tidak ada yang istimewa. Bisa jadi ia terluput dari kebaikan yang banyak. Karena ini adalah karunia dari Allah dan seorang muslim harus bergembira. Allah berfirman, ﻗُﻞْ ﺑِﻔَﻀْﻞِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻭَﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻪِ ﻓَﺒِﺬَﻟِﻚَ ﻓَﻠْﻴَﻔْﺮَﺣُﻮﺍْ ﻫُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِّﻤَّﺎ ﻳَﺠْﻤَﻌُﻮﻥَ “Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”  (QS. Yunus [10]: 58). Lihat ...
HUKUM NIAT PUASA RAMADHAN SEBULAN PENUH SEKALIGUS. PP Al Huda Banjar.  Sebentar lagi puasa romadhon, Boleh tidak niatnya disekaligusin sebulan, seperti.... "Nawaitu shouma syahri romadlon kullihi" atas jawaban'ya saya ucapkan terma kasih... Niat puasa sebulan penuh pada malam awal puasa romadlon hukumya di sunahkan. Sedangkan hukum niat untuk puasa hari2 setelah hari pertama ulama berbeda pendapat (khilaf): 1.menurut madzhab syafi'iyah niat puasa untuk sebulan penuh tersebut cukup untuk puasa satu hari yang pertama,sehingga stiap hari puasa romadlonya wajib di niati,jika tidak di niati maka tidak sah puasanya sbulan tersebut kecuali puasa romadlon hari pertamanya. 2.sedangkan menurut imam malik niat puasa romadlon untuk sebulan penuh sdah mencukupi,sehingga untuk hari2 berikutnya tidak wajib niat kembali.yang artinya jika tidak niatpun sdah sah karena niatya sdah sebulan penuh pada malam hari pertama awal puasa romadlon trsebut. [ hasyiya qulyubi wa 'um...
MENURUT USTADZ ADI HIDAYAT PALSU, MENURUT SYAIKH IBNU HAJAR TIDAK Dipublikasi pada   Februari 26, 2020   oleh  Faris KA Pon Pes Al Huda Banjar.  Menurut Ustadz Adi Hidayat, hadits yang menjelaskan keutamaan Rajab yang beliau baca itu adalah hadits palsu. Sementara menurut Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H) hadits tersebut bukan palsu, tapi dha’if. (وَسُئِلَ) نَفَعَ اللَّهُ بِهِ عَنْ حَدِيث … إلى قوله :وَحَدِيثِ «مَنْ صَامَ يَوْمًا مِنْ رَجَبٍ كَانَ كَصِيَامِ شَهْرٍ، وَمَنْ صَامَ مِنْهُ سَبْعَةَ أَيَّامٍ أُغْلِقَتْ عَنْهُ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ السَّبْعَةُ وَمَنْ صَامَ مِنْهُ ثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ، وَمَنْ صَامَ مِنْهُ عَشَرَةَ أَيَّامٍ بُدِّلَتْ سَيِّئَاتُهُ حَسَنَاتٍ» هَلْ هِيَ مَوْضُوعَةٌ أَمْ لَا؟ (فَأَجَابَ) بِقَوْلِهِ لَيْسَتْ مَوْضُوعَةً بَلْ ضَعِيفَةٌ فَتَجُوز رِوَايَتُهَا وَالْعَمَلُ بِهَا فِي الْفَضَائِلِ. الفتاوى الفقهية الكبرى (2/ 86) Beliau (Ibnu Hajar) – semoga Allah memberikan ...
Bahaya latin Politisasi Aqidah Membedah Mihnah dan al-I’tiqad al-Qadiri By. Gus nadir Sebagai pecinta ilmu tentu saja Khalifah  al-Makmun  (786-833 M), Khalifah ke-7 Abbasiyah, dipuji para ilmuwan. Namun  al-Makmun  pada saat yang sama hendak menegakkan otoritas keagamaan yang dimiliki khalifah. Sebagai seorang rasionalis, dia cenderung pada pemikiran Mu’tazilah. Dan al-Makmun tidak bisa menahan godaan untuk memaksa para ulama tradisional agar memiliki paham yang sama dengannya. Maka muncullah persitiwa mihnah, yaitu semacam tes keagamaan dimana mereka yang memiliki paham berbeda akan dipersekusi oleh negara. Pangkal persoalan ada pada perdebatan ilmu kalam: apakah kalamullah yang berbentuk mushaf al-Qur’an itu qadim atau hadits (baru diciptakan dan karenanya dianggap sebagai makhluk). Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpendapat al-Qur’an itu qadim, sedangkan Mu’tazilah berpendapat al-Qur’an itu makhluk. Kalau ditarik ke belakang, perdebatan i...

Maulid Nabi

M emperingati hari kelahiran nabi Muhammad, bukan haul wafatnya  Al Huda banjar. -  Sering kita mendapatkan pertanyaan dari masyarakat akar rumput ihwal tidak diperingatinya hari wafatnya Rasulullah. Mereka bertanya, kenapa tidak ada peringatan hari wafatnya Nabi, sebagaimana haul para ulama dan wali Allah. Mengapa hanya hari kelahiran beliau yang diperingati?. Sehubungan dengan ini, Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki dalam kitabnya Haulul-Ihtifal bi Dzikra Maulidin-Nabi asy-Syarif, beliau mencatut pernyataan Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Al-Hawi-nya: ﻧﺼﻪ : ﺇﻥ ﻭﻻﺩﺗﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻋﻈﻢ ﺍﻟﻨﻌﻢ ﻭﻭﻓﺎﺗﻪ ﺃﻋﻈﻢﺍﻟﻤﺼﺎﺋﺐ ﻟﻨﺎ. ﻭﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﺣﺜﺖﻋﻠﻰ ﺇﻇﻬﺎﺭ ﺷﻜﺮ ﺍﻟﻨﻌﻢ ﻭﺍﻟﺼﺒﺮﻭﺍﻟﺴﻜﻮﻥ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻤﺼﺎﺋﺐ   Sesungguhnya kelahiran Nabi lebih agung daripada semua nikmat dan wafatnya Beliau merupakan musibah yang paling besar. Syariat Islam selalu menganjurkan untuk menampakkan rasa syukur atas nikmat-nikmat dan bersabar serta diam (tidak mengeluh) ketika tertimpa musibah-musibah. ﻭﻗﺪ ﺃﻣﺮ ﺍﻟﺸﺮﻉ ...

Mengenal Tasawuf Irfani dari Seorang Tokoh Dzu An Nun Al Mishri

Mengenal Tasawuf Irfani dari Seorang Tokoh Dzu An Nun Al Mishri Al   Huda Banjar. -Tasawuf, istilah yang diberikan untuk Mistisme dalam Islam atau  the mystic of Islam.  Sehingga bisa dikatakan bahwa dunia mistik yang didalami oleh agama Islam berasal dan berangkat dari dunia Tasawuf, sedangkan para orientalis menyebutnya sebagai  sufism . Namun dalam mengenal tasawuf sendiri, tentu kita tidak hanya terpatok pada kata Tasawuf saja, melainkan kita pun serasa wajib tahu akan berbagai varian dari tasawuf sendiri, dan kali ini kita akan membahas terkait  Tasawuf Irfani  dan salah satu tokoh pengembannya, berikut ulasannya; Tasawuf Irfani , Tasawuf secara makna kata berarti suci, yakni berasal dari kata  Shafa ’ yang berbentu fi’il mabni majhul sehingga menjadi isim mulhaq  dengan huruf “ya’” nisbah yang berarti sebagai nama bagi orang orang yang bersih atau suci. Sedangkan Irfan dalam bahasa Arab adalah bentuk Mashdar dari ‘arafa yang ar...

Tradisi Mencium Tangan Kiai di Pesantren

Tradisi Mencium Tangan Kiai di Pesantren, Kebiasaan Orang Shaleh Sejak Zaman Nabi Kang Izad. Al Huda Banjar. – Suatu ketika, saya ngobrol panjang dengan seorang teman, obrolan kami berkisar seputar pesantren dan beberapa tradisi yang ada di dalamnya. Ketika masuk ke pembahasan tradisi mencium tangan kiai, teman saya berpendapat bahwa tradisi cium tangan adalah sesuatu yang tidak layak, tidak manusiawi, dan dianggap representasi dari satu jenis perbudakan. Maklum, teman saya ini hampir tidak pernah mengenyam pendidikan ala  pesantren . Sejak kecil, dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan sekolah umum yang kurang ada sentuhan kepesantrenan. Tapi apa boleh buat, pandangan yang kurang pas soal tradisi mencium tangan kiai ini harus saya luruskan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Biasanya, seseorang yang menolak tradisi-tradisi lama semacam cium tangan, sangat banyak terpengaruh oleh gagasan orang-orang Barat yang bercirikan bebas dan anti merendah di hadapan orang la...

MEMBACA QUR`AN DI KUBURAN

MEMBACA QUR`AN DI KUBURAN Al Huda banjar. Sering kali kita mendengar penceramah membahas soal hukum membaca Al-quran di makam " kubur ", maka pembahasan ini akan mengupas dasar penetapan membaca al-Qur'an atau khusunya surat Yasin dan tahlil di kuburan sebagaimana yang kerap dilakukan oleh warga Nahdhiyyin saat berziarah atau nyekar di makam orang tua atau saudara. Dalam satu haditsnya, Rasulallah bersabda: مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ كُلَّ جُمْعَةٍ فَقَرَأَ عِنْدَهُمَا أَوْ عِنْدَهُ يَس غُفِرَ لَهُ بِعَدَدِ كُلِّ آيَةٍ أَوْ حَرْفٍ “Barangsiapa berziarah ke kuburan kedua orang tuanya setiap Jum’at lalu membacakan di sisinya Surat Yasin, niscaya akan diampuni sebanyak jumlah ayat dan huruf yang dibaca.” Hadits riwayat Ibnu ‘Adi dari Abu Bakar ini masih diperselisihkan para pakar ahli hadits. Al-Hafizh Ibnul Jauzi menilainya maudhu’, sementara ulama lain mengatakan hanya dha‘if[1] seperti al-Hafizh as-Suyuthi dan lain-lain. Berangkat dari pendapat yang terakh...

Semut minta hujan

Ketika Seekor Semut Lakukan Istisqa di Zaman Nabi Sulaiman As Senin 07 Oktober 2019  Al Huda banjar. Semut bukan hewan biasa. Semut memiliki keistimewaan dalam Islam. Semut merupakan salah satu hewan yang disebut dalam Al-Qur’an bahkan diabadikan menjadi salah satu nama surat di dalamnya, An-Naml (Surat Semut).   Hubungan semut dan manusia bukan terjadi belakangan ketika anak-anak diserang kawanan semut ketika naik pohon jambu, bacang, mangga, kecapi, atau pohon rambutan. Semut juga kerap dijumpai di sebuah gelas berisi kopi, susu, atau sekadar air putih, bahkan di kaleng susu.   Hubungan manusia dan semut sudah terjalin sejak lama. Nabi Muhammad Saw pernah menceritakan seorang nabi di zaman dahulu yang membakar sarang semut karena salah seekor dari mereka mengigitnya. Tetapi atas tindakan melewati batas tersebut, Allah menegur nabi-Nya sebagaimana hadits riwayat Sunan Abu Dawud berikut ini:   عن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال نزل نبي م...